Ridwan Kamil : Kalau ke Aceh wajib ke Museum Tsunami Aceh

Memiliki ruang terbuka hijau (RTH) yang proporsional dengan luas kotanya, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil ST MUD memuji Banda Aceh sebagai kota yang perkembangannya pesat.

“Ini yang bikin saya iri, karena kami di Bandung tak seleluasa Banda Aceh dalam membangun taman-taman kota,” ujarnya dalam Talkshow Asosiasi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi (Akkopsi) di Gedung AAC Dayan Dawood, Darussalam, Banda Aceh, Kamis (24/11/2016) sore.

Pernyataan wali kota yang sering disapa Emil itu ia sampaikan di depan Hj Illiza Sa’aduddin Djamal, Wali Kota Banda Aceh petahana yang sedang cuti kampanye karena mencalonkan diri sebagai Wali Kota Banda Aceh periode 2017-2022.

Pernyataan Kang Emil itu juga didengar langsung Ketua Umum Akkopsi, M Rizal Effendi yang notabene Wali Kota Balikpapan.

Forum itu juga dihadiri sejumlah bupati/wali kota dan hampir semua kepala Bappeda kabupaten/kota se-Indonesia yang merupakan anggota Akkopsi.

Dalam talkshow yang merupakan ‘sharing season’ antarbupati/wali kota anggota Akkopsi itu, Kang Emil juga menyebutkan kepadatan penduduk di kota yang dipimpinnya itu sangat rapat, mengingat jumlahnya mencapai 2,4 juta jiwa dengan luas 167,7 km2, sehingga kedapatan penduduknya rata-rata 14.312 orang per km2.

Tempat Wisata - Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami Aceh

Baca Juga :

Sedangkan Banda Aceh yang luasnya 61,36 km2, berpenduduk 220.737 jiwa, sehingga rata-rata kepadatan penduduknya hanyalah 3.597 orang per km2.

Dengan demikian, kepadatan penduduknya masih sangat longgar dan memungkinkan dibangun banyak taman kota atau ruang terbuka hijau.

Tapi kalau di Bandung, kata Kang Emil, taman kotanya rata-rata tidak terlalu luas karena terdesak atau terjepit oleh permukiman penduduk dan perkantoran.

Namun, ia punya kiat yakni dengan membangun taman hijau tapi tematik. Ada namanya Taman Film, Taman Foto, dan Taman Lansia. Jadi, taman itu tetap ramai dikunjungi oleh komunitas sesuai dengan kategori taman tersebut.

Kang Emil juga membeberkan bahwa sekolah-sekolah di Kota Bandung dia haruskan membangun toilet sekelas toilet hotel bintang 3 supaya sanitasi di sekolah pun baik.

Ia juga memasyarakatkan gerakan kutip sampah dua hari sekali. Ia sendiri ikut mengutip sampah di jalanan dan di ruang publik lainnya bersama warga, sehingga kota itu semakin bersih.

Apabila ada warga yang ketahuan membuang sampah di sungai atau berkendara di atas trotoar jalan, maka orang tersebut ditangkap, lalu foto wajahnya dipampangkan di facebook.

Cara seperti ini ternyata sangat efektif karena warga umumnya malu kalau wajahnya dipampangkan di facebook atau spanduk yang dipasang di pinggir sungai yang ia cemari.

Meski hanya dua hari berada di Banda Aceh, tapi siang kemarin, sebelum talkshow di Gedung AAC Dayan Dawood, Kang Emil menyempatkan diri mengunjungi Museum Tsunami Aceh.

Soalnya dialah yang merancang museum berbentuk kapal itu pada tahun 2007 dalam kapasitasnya sebagai arsitek yang juga Dosen Institut Teknologi Bandung.

“Kalau sudah kembali ke Banda Aceh, wajib bagi saya berkunjung ke Museum Tsunami Aceh,” kata Kang Emil.

Sebagaimana diketahui, desain museum tsunami karya Ridwan Kamil itu memenangkan lomba sayembara Desain Museum Tsunami Aceh tahun 2007.

Karya Ridwan Kamil berhasil menyisihkan 68 desain lainnya dan ia berhak mengantongi hadiah Rp 100 juta dari BRR NAD-Nias kala itu.

error: Content is protected !!