BUPATI BANDUNG BARAT AKUI BANYAK PEKERJAAN YANG BELUM TUNTAS

Abubakar sebagai Bupati Bandung Barat mengakui bahwa masih banyak pekerjaan yang belum tuntas menjelang akhir dua periode kepemimpinannya pada 2018 nanti. Saat ini, beberapa proyek pembangunan pemerintah daerah masih berjalan dan membutuhkan waktu beberapa tahun lagi agar bisa rampung.

“Memang kalau untuk membangun secara keseluruhan, dua periode itu belum cukup. Harus ada yang melanjutkannya dan selaras dengan visi dan misi pemerintah daerah saat ini,” kata Abu Bakar seusai menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat Kecamatan di Padalarang.

Untuk Di daerah Padalarang saja, Abubakar mencontohkan, ada beberapa proyek pemerintah daerah yang harus diselesaikan. Misalnya, soal kemacetan di Jalan Raya Padalarang, penataan Pasar Tagog Padalarang, pembangunan Rumah Sakit Ibu dan Anak, hingga penataan objek wisata seperti Situ Ciburuy.

Menurut Abubakar, berbagai persoalan tersebut saat ini masih dan akan terus ditangani. Penataan Pasar Tagog misalnya, kini tengah dalam penjajakan dengan para pedagang untuk merumuskan kondisi pasar yang diinginkan.

Soal pembangunan RSIA Padalarang, lanjut dia, saat ini pun sudah memasuki detail engineering design (DED). Sementara untuk mengurai kemacetan di Padalarang, dia berencana membangun Jalan Lingkar Cipatat.

“Semua rencana ini hanya bisa dilanjutkan oleh kepala daerah yang sepakat dengan visi misi pemerintah daerah saat ini. Jika tidak, ya pembangunan tidak bisa dilanjutkan,” ujarnya.

Ia meyakini, calon kepala daerah yang bisa meneruskan pembangunan yang kini tengah berjalan yaitu istrinya, yakni Elin Suharliah. Sebab jika dilanjutkan oleh yang lain, menurut dia, belum tentu sepakat dengan visi Cermat yang digagasnya selama dua periode kepemimpinannya itu.

“Namun, semuanya dikembalikan kepada masayarakat. Sebab, pembangunan daerah membutuhkan partisipasi dari semua elemen masyarakat,” katanya.

Melalui musrenbang, dia menambahkan, pemerintah daerah mencoba memetakan hal-hal yang perlu diperbaiki dan dibangun pada tahun berikutnya. Ia berharap agar masyarakat bisa bersinergi dengan pemerintah daerah untuk menyukseskan pembangunan.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah KBB Adiyoto mengungkapkan, musrenbang kali ini digelar untuk setiap dua kecamatan. Kehadiran bupati pada musrenbang tingkat kecamatan, menurut dia, untuk melakukan evaluasi dan menampung usulan-usulan untuk perencanaan pembangunan tahun depan.

“Kebanyakan yang diusulkan pada musrenbang yaitu soal infrastruktur, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kinerja aparatur pemerintah. Itu memang yang diprioritaskan,” ungkapnya.

Wagub Jabar Sarankan Diselesaikan Pihak Ketiga Untuk Alih Kelola Lahan Eks Palaguna

Mengenai Permasalahan lahan eks Palaguna di Alun- alun kota Bandung, hingga saat ini masih belum menemui titik temu. Untuk itu Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar menyarankan agar permasalahan ini dapat diselesaikan secara musyawarah oleh para pihak terkait diantaranya Pemkot Bandung, investor dan PD Jawi.

“Sebaiknya duduk bersama ketiga pihak itu dan musyawarahkan untuk mencari solusi terbaik” katanya.

Namun menurutnya yang harus menjadi landasan musyawarah adalah RT RW Kota Bandung sendiri, sebagai acuan atau dasar hukum peruntukan lahan atau kawasan.

“Jika berdasarkan RDTR Kota Bandung peruntukannya memang untuk kawasan bisnis, maka ya izinkan investor untuk berbisnis di situ, jangan tiba-tiba akan dijadikan kawasan hutan Kota. Atau kalau memang tetap harus ada hutan kota, kan bisa dikonvensasi dengan lahan di lain tempat sebagai pengganti untuk dijadikan hutan kota” tegas Demiz sapaan akrabnya melansir laman resmi Pemprov Jabar

PENGELOLA GLAMPING LAKESIDE DI CIWIDEY DITEGUR BUPATI BANDUNG

Dadang M Naser sebagai Bupati Bandung meminta pengembang atau pengelola objek wisata Glamping Lakeside untuk menghentikan pengembangan wisata yang tengah berjalan di Desa Patengan, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung.

Selain itu, mereka diminta agar menyelesaikan urusan izin operasional ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung yang belum selesai. “Kami sudah menyetop operasional di Glamping karena bermasalah soal izin dan belum lengkap,” ungkapnya

Ia pun mempertanyakan langkah pihak pengelola yang memperluas objek wisata, yang dinilai akan menimbulkan kerusakan alam di daerah sekitar. “Kenapa objek wisatanya harus diperluas lagi, bisa rusak itu alam. Jelas ini belum ada izin,” katanya.

Menurutnya, pihaknya sudah memberi teguran kepada pengelola terkait izin yang belum diurus. Apalagi saat ini aturan tata ruang sudah selesai dan akan dilihat apakah pembangunannya sudah sesuai atau tidak. Ia menambahkan pengembangan yang saat ini juga tengah dilakukan menuju situs ziarah di Kawah Cibuni untuk dikomersilkan, agar segera dihentikan.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung, Yayat Hidayat mengatakan, Komisi B telah melakukan investigasi ke kawasan Glamping Lakeside dan Kawah Rengganis.Hal itu menindaklanjuti banyaknya keluhan warga yang memprotes pengelola melakukan pelanggaran.

“Tim dari komisi B juga ingin memastikan izin operasional di objek wisata itu. Tentunya, DPRD tidak bisa melihat permasalah ini secara sepihak, sehingga perlu melakukan investigasi ke lapangan,” ujar Yayat.

Tujuan dari investigasi tersebut, kata Yayat, agar pihaknya bisa segera mengambil sikap dan mendapatkan informasi untuk nantinya dirapatkan resmi di komisi. “Kami perlu tanya masyarakatnya, pemerintah dan pengelola. Lalu meneliti izin termasuk indikasi kesepakatan yang katanya dilanggar,” katanya.

Aher: “Semoga Geopark Ciletuh bisa masuk ke Unesco Global Geopark…

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan bahwa pihaknya siap menghadapi tim asesor yang akan menilai Geopark Ciletuh pada Mei 2017 mendatang. Pasalnya, MoU yang dipersyaratkan Unesco sudah semakin lengkap.

“MoU sudah lengkap, jadi kerja sama bukan hanya antara pemprov Jabar dan Kabupaten Sukabumi saja, kita juga menjalin kerjasama dengan Biofarma dan kalangan akademisi dari Unpad,” Ungkapnya

Ia menambahkan, pihaknya juga menjalin kerjasama dengan geopark lainnya, seperti geopark di Bali dan Yogyakarta. Ia berharap kerja sama tersebut bisa terus berkembang dan diikuti oleh berbagai pihak lainnya.

“Kita juga sudah tanda tangan dengan pihak perholtelan, perbankan, PLN dan pihak lainnya. Kita doakan saja semoga Geopark Ciletuh bisa masuk ke Unesco Global Geopark,” pungkasnya.

Lahan Tersubur Paham Terorisme Ada di Jawa Barat

Muradi sebagai Pengamat Politik dan Keamanan dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung menilai bahwa wilayah Jawa Barat merupakan lahan subur aksi terorisme dan juga paham radikalisme. Menurutnya para teroris sangat merasa nyaman bila berada di Jawa Barat sehingga mereka secara leluasa melancarkan aksinya.

“Mereka merasa nyaman dan ada dukungan, tidak dimusuhi seperti di Jakarta . Disini malah tidak ketat. Dan Jawa Barat jadi kantung terbesar kelompok radikal,”.

Selain itu lanjut Muradi, para teroris ini sangat paham betul mengenai budaya masyarakat Jawa Barat yang menganut semboyan “Someah hade ka semah”, Sehingga ia menilai aksi teror bom panci yang terjadi di kota Bandung tadi sudah terprediksi.

“Jadi mereka tidak merasa terasing disini.Mereka diterima dikelompok sekelilingnyaa. Apalagi di Bandung kan orang-orangnya sangat welcome,” pungkasnya.

Odesa-Indonesia Galang Kepedulian Untuk Atasi Krisis Ekologi di Bandung Utara

Budhiana Kartawijaya sebagai Pengurus Odesa-Indonesia, menyatakan bahwa salah satu penyebab banjir di kota Bandung disebabkan oleh kawasan utara mengalami krisis ekologi. Bukit-bukit yang dahulunya hutan kini dibabat menjadi lahan pertanian.

“Tidak masalah kegiatan pertanian. Tetapi mengabaikan tanaman tinggi mengakibatkan aliran air tidak kerasan bertempat dibukit. Itu karena pertanian didominasi sayuran. Harusnya harus ada tanaman tinggi agar akar menampung air di bukit,” ungkapnya, usai diskusi “Teknologi Pertanian Desa” di Sekebalingbing, Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.a

Terkait hal tersebut, Odesa-Indonesia aktif bergiat menanam kopi. Menurut Budhiana, tanaman kopi selain cocok untuk pertanian, juga bisa menjamin keberlangsungan ekologi. Petani-petani di Kecamatan Cimenyan diberi bantuan bibit kopi yang bagus dan gratis.

“Saya kira kalau menunggu peran negara terlalu lama. Sebaiknya orang-orang kota bisa ikut berpartisipasi dalam hal ini,” jelasnya.

Dalam setahun, Odesa-Indonesia berhasil membagikan 60.000 bibit kopi. Pihaknya mengajak masyarakat untuk turut berpartisipasi mendonasikan finansialnya dalam menyediakan bibit kopi dan tanaman pendukung lainnya.

“Kemampuan bibit gratis dari Odesa-Indonesia terbatas sementara kebutuhan masih begitu banyak. Akan sangat bagus kalau para pengusaha dan siapa saja yang peduli dengan krisis lingkungan dan sadar akan kehidupan petani untuk berbagi melalui donasi pembelian bibit-bibit tanaman,” ungkapnya.