April 2016, Pemkot Bandung Mulai Bangun Skywalk Cihampelas

Walikota Bandung Ridwan Kamil (Emil) mengundang sejumlah warga di sepanjang jalan Cihampelas Bandung untuk melakukan sosialisasi terkait rencana pembangunan Skywalk di atas Jalan Cihampelas, Kamis malam di Pendopo Kota Bandung (11/02).

Emil  mengatakan, Bandung akan terus melakukan perubahan dan pembangunan baik dari segi inovasi infrastruktur, aspek sosial, dan yang lainnya demi menuju Bandung Juara. Dalam sosialisasi tersebut, Emil memaparkan aspek – aspek yang akan di dapat warga apabila Skywalk dibangun nantinya.

Rencananya, Skywalk akan dibangun pada April 2016 dan diperkirakan rampung pada Desember 2016. Semua warga Cihampelas mendukung rencana Emil terkait pembangunan Skywalk tersebut. “Sebagai Kota yang akan terus ber Inovasi , Bandung tahun 2016 ini akan kembali membangun Cable Car dan Skywalk, yang pada malam ini saya dan warga Cihampelas berdialog sekaligus bersosialisasi dan Alhamdulilah mereka mendukung semua,” ujar emil seperti dilansir laman resmi Pemkot Bandung, Jum’at (12/02).

Emil menjelaskan, selain menjadi atraksi bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Bandung, Skywalk juga bisa menjadi sarana bagi warga Cihampelas untuk meningkatkan taraf perekonomian.

“Selain akan memberikan kenyamanan bagi pengunjung Cihampelas yang berjalan kaki ,  ruang usaha juga akan bertambah , karena nantinya Toko – toko yang ada di pinggir Jalan Cihampelas akan bisa dinaikkan hingga lantai 3 sehingga pengunjung yang berjalan di Skywalk bisa langsung meng-akses toko-toko di pinggir jalan Cihampelas,” ujar Emil.

Penulis : Hera Erawan

Sumber : PRFM

KHAWATIR TERJADI TINDAKAN ASUSILA, DISDIK LARANG PELAJAR BANDUNG RAYAKAN VALENTINE

Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung mengimbau para pelajar di Kota Bandung untuk tidak merayakan hari valentine atau hari kasih sayang yang jatuh setiap tanggal 14 Februari secara berlebihan. Disdik berencana membuat surat edaran ke tiap-tiap sekolah di Kota Bandung.

Kepala Disdik Kota Bandung, Elih Sudiapermana, mengatakan, pihaknya saat ini tengah mendiskusikan mengenai surat edaran yang dalam waktu dekat akan disebar ke sekolah-sekolah. Tahun lalu pun, ujarnya, pihaknya mengeluarkan surat edaran ke sekolah-sekolah untuk tidak melakukan kegiatan spesial di hari kasih sayang.

“Kami mengantisipasi, karena ada ekslakasi seolah-olah menjadi kegiatan yang heboh,” ujar Elih melalui sambungan telepon, Kamis (11/2).

Elih mengatakan, imbauan melalui surat edaran ini dilakukan guna mengantisipasi adanya kegiatan yang tidak pantas dilakukan oleh pelajar. Sebab, ujarnya, pelajar yang masih polos, rentan terpengaruh perilaku negatif.

Sumber : PRFM

KOTA BANDUNG BATAL TERAPKAN ERP DI JALAN PASTEUR

DPRD Kota Bandung menolak Raperda tentang Jalan Berbayar untuk Jalan Pasteur. Penerapan electronic road pricing (ERP) dinilai belum saatnya diterapkan di Kota Bandung karena terbentur Peraturan Pemerintah No 97 Tahun 2012 tentang kriteria retribusi pengendalian lalu lintas.

Pernyataan tersebut dibacakan Ketua Pansus 10 DPRD Kota Bandung Entang Suryaman dalam Rapat Paripurna yang digelar di Gedung DPRD Kota Bandung, Rabu (10/2/2016) sore.

Dalam laporannya, Entang menyebut salah satu syarat dilaksanakannya jalan berbayar salah satunya yakni tersedianya jaringan dan pelayanan angkutan umum massal dalam trayek yang harus memenuhi standar pelayanan. Landasan aturannya yakni Peraturan Pemerintah No 97 Tahun 2012 tentang kriteria retribusi pengendalian lalu lintas.

“Minimal yang telah diatur dalam Permenhub No 10 Tahun 2012 mengenai standar pelayanan minimal angkutan massal berbasis jalan,” jelas Entang.

Selain itu, lanjut Entang, dalam Raperda yang diajukan tidak tercantum ruas jalan mana saja yang akan diterapkan ERP.

“Ruas jalan berbayar harus dicantumkan dalam Perda. Pansus melihat dalam Raperda yang diajukan tidak tercantum ruas-ruas jalan mana saja yang akan menggunakan ERP,” tambahnya.

Ditemui usai Rapat Paripurna, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengungkapkan pihaknya tidak kecewa atas batalnya penerapan ERP di Jalan Pasteur.

“Karena jalan sumber masalah itu ternyata Jalan Nasional. Jadi antara niat dengan aturan belum memungkinkan. Karena kan retribusi itu nantinya ke PAD, sementara itu jalan nasional,” jelas pria yang akrab disapa Emil itu.

Menurut Emil, penerapan retribusi bukan hal yang utama. Yang terpenting bagaimana masyarakat yang datang ke Kota Bandung tidak menumpuk ke pintu Tol Pasteur.

“Tujuannya kan bukan keren-kerenan, tapi ada problem yang ingin diselesaian. Saya pelanggan Tol Moh Toha, kenapa orang-orang maunya ke Pasteur terus?” kata Emil.

Untuk itu siasat lain yang digunakan Pemkot Bandung untuk mengurai kemacetan di kawasan Pasteur yakni menghadirkan transportasi massal yang mumpuni.

“Tunggu LRT dan cable car. Tapi saya juga mau cek ke pusat solusinya seperti apa,” tandasnya.

Sumber : Detik

Dinkes : Bebaskan Kota Bandung Dari Rokok

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung tidak ada hentinya mengajak masyarakat khususya warga Bandung untuk membiasakan hidup sehat, mulai dari hal kecil seperti antisipasi perkembangbiakan nyamuk sampai hal yang besar seperti antisipasi kanker paru-paru.

Hal tersebut dilakukan oleh Dinkes Kota Bandung karena pihak Dinkes peduli terhadap kesehatan masyarakat. Seperti halnya yang dishare dalam akun twitter @Bandung_Dinkes Kemarin, Selasa (09/02), Dinkes Kota Bandung menginginkan Bandung terbebas dari asap rokok dan iklan rokok sesuai Undang-Undang Kesehatan nomor 36 tahun 2009 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

“Karena kami peduli, karena kami ingin sehat, karena itu Bebaskan Kota Bandung dari asap rokok & iklan rokok sesuai KTR,” tuit Dinkes Kota Bandung.

Dinsos Kota Bandung menambahkan, salah satu penyakit yang disebabkan oleh asap rokok dan paling sering terjadi adalah kanker paru-paru. Berdasarkan fakta yang diperoleh dari American Cancer Society (ACS) 2012 lalu, terdapat 14,1 juta kasus kanker paru-paru di dunia.

Penulis : Hera Erawan

 

sumber : PRFM

PENGAMAT: PEMERATAAN RTH DI KOTA BANDUNG BELUM MAKSIMAL

Pengamat tata kota dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Denny Zulkaidi menilai pemarataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Bandung belum maksimal. Upaya merevitalisasi taman-taman masih terfokus pada titik-titik pusat kota.

Padahal semestinya, katan dia, taman-taman harus dibangun di setiap wilayah. Bahkan di tingkat RT sekalipun. Hal ini sesuai dengan peraturan yang telah dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera).

“Menurut standar PU, taman itu ada di RT 250 meter persegi. Di RW 1250 meter persegi, di kelurahan 9000 meter persegi di kecamatan 1,4 hektar, di kota itu 2,4 hektar. Nah kalau itu dipenuhi saja lumayanlah tersebar,” ungkap dia saat dihubungi, Senin (8/2/2016).

Menurutnya tingkat penyebaran taman yang belum merata ini mengahadirkan persoalan baru. Pasalnya warga warga pinggiran secara berbondong-bondong datang ke taman kota yang letaknya jauh dari rumah.

Akan tetapi, lanjut dia, kondisi taman kota di Bandung belum memadai dari segi fasilitas parkir. Tak banyak taman yang menyediakan area parkir sehingga warga terpaksa memarkirkan di badan jalan.

“Kondisi itu tentunya membuat kemacetan di Kota Bandung. Soalnya penyempitan bahu jalan oleh kendaraan pengunjung yang terparkir,” katanya.

Oleh karena itu, ia mengatakan perlu ada standarisasi luas dan kualitas taman yang harus dipatuhi Pemkot Bandung. Fasilitas sosial yang wajib seperti toilet dan parkir harus disediakan ditambah sarana yang membuat menarik lainnya.

“Untuk Pemkot upayakan memenuhi standar minimum yang diterapkan oleh UU dengan sebaran yang merata yang ditetapkan oleh Kementerian PU, lalu memberikan kualitas yang relatif sama supaya masyarakat pergi ke taman yang paling deket dengan rumahnya,” terang dia. (GM)

Wali Kota Bandung Resmikan Taman Griya Caraka

Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil didampingi Kepala Dinas Pemakaman dan Pertamanan, Arif Prasetya, meresmikan Taman Griya Caraka di RW 05 Komplek Griya Caraka, Arcamanik, Kota Bandung, Sabtu (06/02).

Tak hanya itu Taman Griya Caraka itu sekaligus dinobatkan sebagai juara 1 lomba taman kategori pemukiman tertata 2015. Taman Griya Caraka  dilengkapi dengan ragam permainan anak, perpustakaan terbuka, dan fasilitas WiFi.

Ridwan mengingatkan agar warga Griya Caraka (GC) khususnya harus bersyukur karena belum semua warga Bandung, dapat merasakan lingkungan seperti di GC.

“Kalau selama ini saya cari RW yang ideal, faktanya sudah saya temukan hari ini, dari 1500 lebih RW, kalau semua seperti Griya Caraka selesai tugas saya,” ujar Emil, seperti dilansir situs resmi Pemerintah Kota Bandung.

Penulis: Siti Imro’atus S.

sumber : PRFM