TNI KECEWA, WARGA MASIH BUANG SAMPAH KE CITARUM

Upaya membersihkan Sungai Citarum yang selama ini dilakukan Kodam III/Siliwangi akan sia-sia jika tak diikuti perubahan sikap dan perilaku warga sekitar sungai dan anak sungai Citarum. “Untuk apa TNI membersihkan Sungai Citarum terus-menerus kalau besok-besok sampah masih numpuk lagi. Ini membuktikan kurangnya kesadaran masyarakat untuk berperilaku disiplin tentang membuang sampah,” kata Pangdam III/Siliwangi Hadi Prasojo, saat meninjau pintu air Sungai Citepus Jl. Inhoftank, Kelurahan Kebonlega Kecamatan Bojongloa Kidul dan Sungai Citepus di Jalan Soekarno Hatta Bandung, Rabu 24 Agustus 2016.

Dalam kegiatan itu, Pangdam III/Siliwangi Hadi Prasojo didampingi Asren Kasdam III/Siliwangi, Dandim 0618/BS dan Waaster Kasdam III/Siliwangi. Kegiatan dilakukan untuk mengetahui perkembangan Sungai Citarum sebelum dan sesudah digelarnya Karya Bakti Kodam III/Siliwangi. Kodam III/Siliwangi bekerja sama dengan Pemprov Jabar dan instansi terkait lainnya, berupaya mewujudkan Sungai Citarum yang bersih, indah, sehat ,lestari, dan enak dipandang.

Fakta di lapangan, sampah masih menjadi pemandangan umum di sungai. Di pintu air Sungai Citepus, sangat jelas tumpukan sampah yang menutupi badang sungai. Sampahnya bermacam-macam mulai dari beberapa kayu lepasan bekas lemari yang rusak, kursi rusak, styrofoam, hingga bantal. Namun,
kantong plastik berisi sampah rumah tangga yang paling mendominasi.

“Saya minta warga jangan buang sampah ke Sungai atau anak Sungai #Citarum karena dapat merugikan orang banyak. Tidak juga mendirikan bangunan di bantaran sungai karena akan menjadikan sungai kumuh,” ucapnya.

CAMAT ANDIR OPTIMIS SARITEM AKAN MENJADI KAMPUNG KREATIF

Camat Andir Nofidi Eka Putra menyatakan optimis terhadap program yang dicanangkan untuk merevitalisasi kawasan prostitusi Saritem. Program tersebut sudah dilakukan melalui rapat mingguan berupa laporan dari kelurahan.

Beliau meminta semua lapisan masyarakat mendukung kawasan Saritem menjadi kampung kreatif dan membersihkan nama Saritem yang terkesan negatif. Hal tersebut dilakukan dengan cara mengadakan lomba mural kaligrafi dikawasan Saritem, sehingga kawasan tersebut bernuansa Islami.

“Tentu tujuan tersebut untuk membuka agar Saritem tidak senegatif yang dibayangkan orang, sehingga turis atau wisatawan lokal akan mendatangi kawasan tersebut, lihat saritem seperti apa dan kita dukung masyarakat sehingga keluar dari image seperti itu,” ungkap Nofidi.

“Kedepan dengan MUI, kita akan ubah Saritem menjadi kampung santri sehingga santri-santri yang hadir ditengah masyarakat menjadi warna berbeda dan memberikan dampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat. Terlebih disana ada Pondok Pesantren Darut Taubah,” tegasnya.

Menurut Nofidi, pihaknya sudah menghadirkan lebih dari 60 anggota Karang Taruna untuk mencanangkan program kampung kreatif. Harapan pun muncul, semua pihak dapat mendukung untuk membersihkan nama Saritem dengan cara mengadakan berbagai acara yang bernilai positif.

INI ALASAN TNI BUBARKAN KOMUNITAS PERPUSTAKAAN JALANAN DI BANDUNG

Kodam III Siliwangi menceritakan kronologi penertiban yang dilakukan anggotanya pada Sabtu malam (20/8/2016).

Kapendam Kodam III Siliwangi Letkol ARH M Desi Ariyanti menjelaskan, saat itu tengah dilakukan patroli dan penertiban komunitas geng motor di wilayah Jabar dan Banten.

Patroli ini terus dilakukan karena beberapa hal. Pertama, membantu pemda dan kepolisian dalam menciptakan keamanan dan kenyamanan masyarakat. Pihaknya juga ingin memenuhi keinginan masyarakat yang kerap khawatir ketika bepergian malam karena kriminalitas.

“Masyarakat khawatir terulangnya kembali kriminalitas yang dilakukan oleh komunitas, geng atau begal motor beberapa waktu yang lalu dan bahkan korban dari kriminalitas komunitas, geng atau begal motor tersebut sampai luka parah dan bahkan meninggal dunia,” ujar Ariyanto dalam keterangan resminya, Senin (22/8/2016).

Kedua, kesepakatan di wilayah Bandung tentang aturan batas waktu berkumpul komunitas motor yang diizinkan hingga pukul 22.00 WIB. Kesepakatan ini diambil dalam pertemuan komunitas motor di Bandung dengan Dandim 0618/BS, beberapa waktu lalu.

“Kalau pun ada kegiatan harus memberitahukan dulu ke polisi atau Dandim setempat,” tuturnya.

Mengenai perpustakaan jalanan, Kodam III Siliwangi memberikan kesempatan untuk melapor ke Depok Bandung bila terjadi pemukulan saat patroli. Pihaknya akan menindaklanjuti hal tersebut sesuai hukum yang berlaku.

“Namun perlu kiranya ditegaskan, tidak ada prajurit ‪#‎TNI‬ dalam hal ini Kodam III Siliwangi yang melakukan tindak pemukulan. Yang ada adalah beberapa anak muda berkumpul malah membentak-bentak petugas yang sedang melakukan tindakan penertiban,” ucapnya.

Dalam rilisnya, Ariyanto mempertanyakan beberapa hal dan mengajak masyarakat berpikir logis. Pertama, mengapa kegiatan membaca buku dilakukan di malam hari di taman yang penerangannya kurang baik.

“Apakah tidak ada lagi tempat di bandung ini yang lebih baik?” tuturnya.

Kedua, sambung Ariyanto, mengapa kegiatan dilakukan lebih dari pukul 23.00?” Bukankah waktu tersebut sudah cukup larut untuk melakukan kegiatan berkumpul,” tulisnya.

Ketiga, bagaimana dengan buku-buku yang dibawa oleh komunitas perpustakaan jalanan ini, apakah terjamin kredibilitasnya dan tergolong buku yang diperbolehkan.

“Terakhir, Kodam III ‪#‎Siliwangi‬ akan tetap menertibkan komunitas geng motor dan komunitas lain yang melakukan tindakan berkumpul tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Hal ini dilakukan hanya untuk membantu pemda, pemkot, dan kepolisian wilayah Jabar dalam menciptakan keamanan, ketertiban, dan kenyamanan,” tutupnya.