Dinkes : Bebaskan Kota Bandung Dari Rokok

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung tidak ada hentinya mengajak masyarakat khususya warga Bandung untuk membiasakan hidup sehat, mulai dari hal kecil seperti antisipasi perkembangbiakan nyamuk sampai hal yang besar seperti antisipasi kanker paru-paru.

Hal tersebut dilakukan oleh Dinkes Kota Bandung karena pihak Dinkes peduli terhadap kesehatan masyarakat. Seperti halnya yang dishare dalam akun twitter @Bandung_Dinkes Kemarin, Selasa (09/02), Dinkes Kota Bandung menginginkan Bandung terbebas dari asap rokok dan iklan rokok sesuai Undang-Undang Kesehatan nomor 36 tahun 2009 tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

“Karena kami peduli, karena kami ingin sehat, karena itu Bebaskan Kota Bandung dari asap rokok & iklan rokok sesuai KTR,” tuit Dinkes Kota Bandung.

Dinsos Kota Bandung menambahkan, salah satu penyakit yang disebabkan oleh asap rokok dan paling sering terjadi adalah kanker paru-paru. Berdasarkan fakta yang diperoleh dari American Cancer Society (ACS) 2012 lalu, terdapat 14,1 juta kasus kanker paru-paru di dunia.

Penulis : Hera Erawan

 

sumber : PRFM

PENGAMAT: PEMERATAAN RTH DI KOTA BANDUNG BELUM MAKSIMAL

Pengamat tata kota dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Denny Zulkaidi menilai pemarataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Bandung belum maksimal. Upaya merevitalisasi taman-taman masih terfokus pada titik-titik pusat kota.

Padahal semestinya, katan dia, taman-taman harus dibangun di setiap wilayah. Bahkan di tingkat RT sekalipun. Hal ini sesuai dengan peraturan yang telah dikeluarkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera).

“Menurut standar PU, taman itu ada di RT 250 meter persegi. Di RW 1250 meter persegi, di kelurahan 9000 meter persegi di kecamatan 1,4 hektar, di kota itu 2,4 hektar. Nah kalau itu dipenuhi saja lumayanlah tersebar,” ungkap dia saat dihubungi, Senin (8/2/2016).

Menurutnya tingkat penyebaran taman yang belum merata ini mengahadirkan persoalan baru. Pasalnya warga warga pinggiran secara berbondong-bondong datang ke taman kota yang letaknya jauh dari rumah.

Akan tetapi, lanjut dia, kondisi taman kota di Bandung belum memadai dari segi fasilitas parkir. Tak banyak taman yang menyediakan area parkir sehingga warga terpaksa memarkirkan di badan jalan.

“Kondisi itu tentunya membuat kemacetan di Kota Bandung. Soalnya penyempitan bahu jalan oleh kendaraan pengunjung yang terparkir,” katanya.

Oleh karena itu, ia mengatakan perlu ada standarisasi luas dan kualitas taman yang harus dipatuhi Pemkot Bandung. Fasilitas sosial yang wajib seperti toilet dan parkir harus disediakan ditambah sarana yang membuat menarik lainnya.

“Untuk Pemkot upayakan memenuhi standar minimum yang diterapkan oleh UU dengan sebaran yang merata yang ditetapkan oleh Kementerian PU, lalu memberikan kualitas yang relatif sama supaya masyarakat pergi ke taman yang paling deket dengan rumahnya,” terang dia. (GM)

Wali Kota Bandung Resmikan Taman Griya Caraka

Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil didampingi Kepala Dinas Pemakaman dan Pertamanan, Arif Prasetya, meresmikan Taman Griya Caraka di RW 05 Komplek Griya Caraka, Arcamanik, Kota Bandung, Sabtu (06/02).

Tak hanya itu Taman Griya Caraka itu sekaligus dinobatkan sebagai juara 1 lomba taman kategori pemukiman tertata 2015. Taman Griya Caraka  dilengkapi dengan ragam permainan anak, perpustakaan terbuka, dan fasilitas WiFi.

Ridwan mengingatkan agar warga Griya Caraka (GC) khususnya harus bersyukur karena belum semua warga Bandung, dapat merasakan lingkungan seperti di GC.

“Kalau selama ini saya cari RW yang ideal, faktanya sudah saya temukan hari ini, dari 1500 lebih RW, kalau semua seperti Griya Caraka selesai tugas saya,” ujar Emil, seperti dilansir situs resmi Pemerintah Kota Bandung.

Penulis: Siti Imro’atus S.

sumber : PRFM

8 KRITIK DARI PENULIS RUSIA UNTUK KOTA BANDUNG

Penunjukan Bandung sebagai salah satu kota kreatif dunia oleh UNESCO nyatanya menimbulkan tanya bagi Andre Vltchek, seorang penulis, filsuf, novelis, dan jurnalis investigasi asal Rusia. Melalui berbagai media online ia sampaikan berbagai macam kritiknya yang mulai menjadi viral hingga kini.

Dari sekian banyak kritik itu, ada beberapa yang bisa dijadikan bahan evaluasi bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung untuk membuktikan bahwa Bandung memang layak mendapat gelar kota kreatif dunia dari UNESCO.

Setidaknya ada delapan kritik Andre yang bisa menjadi sumber perbaikan Kota Bandung agar menjadi lebih baik lagi. Simak berikut ini:

1. Pembangunan Gedung Konser Permanen

Sebagai kota kreatif, Bandung setidaknya harus memiliki satu gedung khusus untuk penyelenggaraan konser. Saat ini, menurut Andre, Bandung belum memiliki hal tersebut sehingga membuatnya tak mampu menjadi semacam “kota tempat belajar.”

2. Penambahan Bioskop Seni dan Museum yang Layak

Andre mengkritisi Bandung karena saat ini kota itu belum punya cukup bioskop-bioskop dan museum seni yang layak. Saat ini di Bandung tercatat hanya ada enam museum, yakni Museum Sri Baduga, Museum Geologi, Museum Konferensi Asia Afrika, Museum Mandala Wangsit, Museum POS Indonesia, dan Museum Barli.

Karena itu, penting bagi Pemkot Bandung untuk membangun lebih banyak galeri seni dan museum agar Andre dan kritikus lainnya tak sangsi terhadap gelar kota kreatif dunia tersebut.

3. Terlalu Banyak Toko Penjual Barang KW

Dalam kritiknya, Andre juga menyebut bahwa ada ratusan butik atau toko yang menjual barang-barang palsu atau biasa disebut “KW”, baik lokal maupun luar negeri.

Hal itu setidaknya bisa dijadikan perhatian lebih oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil, beserta jajarannya untuk meminimalkan peredaran dan keberadaan barang-barang palsu tersebut di Bandung, terlebih jika hal itu menyasar merek luar neger ternama.

4. Minimnya Transportasi Umum dan Infrastruktur Transportasi

Berikutnya juga Andre mengkritik Bandung karena tak memiliki transportasi umum yang bisa diandalkan. Selain itu, dia juga mempertanyakan bagaimana kota tanpa kereta bawah tanah, tanpa jaringan kereta super sibuk, tanpa trem, dan tanpa underpass seperti Bandung bisa menjadi kota kreatif menurut UNESCO.

Mungkin kritik ini pertanda bahwa Bandung harus segera memiliki moda transportasi umum yang dapat mengangkut massa dalam jumlah besar dan segera membangun bermacam infrastruktur terkait hal tersebut.

5. Ketiadaan Perpustakaan Besar

Bagi sebuah kota kreatif, Andre merasa penting keberadaan sebuah perpustakaan besar. Bandung sendiri saat ini menurut Andre belum memiliki kriteria itu.

Kritik ini seolah menjadi sentilan bagi Pemkot Bandung untuk membangun sebuah perpustakaan besar di sana.

6. Keberadaan bar Nazi atau Soldaten Kaffee

Keberadaan “Soldaten Kaffee” menjadi salah satu yang disorot Andre di Bandung. Pasalnya, kafe tersebut menampilkan bermacam pernak-pernik Nazi dan gambar diri pemimpinnya, Adolf Hitler.

Hal tersebut membuat Andre bertanya alasan Pemkot Bandung dan UNESCO mendukung kemunculan kembali paham fasisme dan memasukkan hal tersebut sebagai unsur kreatif milik UNESCO.

7. Nasionalisme di Saung Udjo

Saung Udjo, tempat bermain angklung, alat musik yang sudah masuk menjadi salah satu warisan dunia juga tak luput dari sasaran kritik Andre. Menurut dia, salah satu destinasi wisata Bandung itu telah menyelewengkan budayanya sendiri dengan lebih banyak memainkan musik pop Barat melalui angklung tersebut.

Andre bahkan menyebut bahwa publik lebih sering mendengar lagu Delilah dan I Did It My Way ketimbang musik Sunda itu sendiri. Dia berpendapat, seharusnya UNESCO mengeluh dan mengancam akan hal tersebut. Namun, hal yang terjadi tidak demikian adanya.

8. Pemanfaatan Museum Konferensi Asia Afrika

Andre melihat bahwa ada satu tempat di Bandung yang seharusnya menjadi perhatian UNESCO namun malah tidak diperhatikan. Tempat tersebut adalah Museum Konferensi Asia Afrika (KAA). Menurut dia, museum itu bisa menjadi salah satu gedung paling penting di Asia.

Museum KAA merupakan tempat digelarnya konferensi antarnegara Asia dan Afrika dalam rangka menentang imperialisme. Tapi, nyatanya tempat itu tidak pernah masuk menjadi salah satu warisan dunia.

Pemkot Bandung diharapkan bisa lebih lagi dalam memanfaatkan penggunaan Museum KAA ini. (kmp)

Atasi Kemacetan, Polresta Bandung Minta Bantuan Pak Ogah

Guna mengurai kemacetan di Kota Bandung, petugas Polrestabes Bandung meminta bantuan relawan pengatur lalu lintas atau biasa disebut Pak Ogah. Hal tersebut disampaikan Kasat Binmas Polrestabes Bandung AKBP Adi Sumarwan.

Dirinya menuturkan, pihaknya memiliki program perekrutan relawan pengatur lalu lintas demi mengatasi kemacetan di daerah berjuluk Kota Kembang tersebut.

“Kami memang berencana melakukan pembentukan relawan pengatur lalu lintas untuk mengurai kemacetan yang banyak terjadi di Kota Bandung,” ujarnya, Selasa (9/2/2016). Sampai saat ini, perekrutan disebutkannya masih dalam tahap pendataan dari jajaran polsek.

‎”Selain dari polsek, datanya juga bisa bersumber dari masyarakat sendiri yang tahu kemacetannya di mana ada Pak Ogahnya atau enggak,” katanya.

Terkait persyaratan menjadi relawan, terang Adi, sebatas menunjukkan identitas atau tanda pengenal. Lalu ditanya kerelaan mereka mau atau enggak.

“Pada prinsipnya, mereka relawan yang harus rela membantu mengatur lalu lintas. Segitu saja sudah cukup. Kalaupun nantinya ada pengendara yang kasih uang, diterima saja oleh mereka,” tuturnya.‎

(abp)

Sumber : okezone

Bandung Siap Miliki Menara Eifell

Walikota Bandung Ridwan Kamil kembali mengeluarkan gagasan baru terkait pembangunan kota. Setelah membangun dan merevitalisasi beberapa taman dan pasar di Kota Bandung, kini Walikota yang aktif di media sosial tersebut melalui akun instagramnya menyebarkan 18 inovasi baru untuk Bandung. Salah satunya adalah merubah taman Tegalega menjadi ‘Tegalega Eifell’.

Selain Tegalega Eifell, Walikota yang akrab disapa Kang Emil ini juga menyiapkan beberapa pembaruan untuk Kota Bandung, seperti LRT, Cable Car, Revitalisasi Babakan Siliwangi, Bike Sharing dan yang lainnya.

Dalam akun instagramnya tersebut, Kang Emil pun mengharapkan do’a dari seluruh warga agar inovasinya untuk Kota Bandung di Tahun 2016 tersebut bisa terlaksana dan lancar.

“Inovasi-inovasi untuk Bandung yang akan dilakukan di 2016. Mohon doanya warga Bandung agar semuanya terwujud dan lancar. Hatur Nuhun,” tulis Kang Emil dalam instagramnya @ridwankamil, Jum’at (05/02).

Penulis: Rifki Abdul Fahmi

Sumber : PRFM